Unik, Inilah 9 Fakta Sejarah Kota Jakarta Yang Tak Banyak Orang Tahu


Halo Jakartans! Statusnya sebagai ibukota negara Indonesia, membuat Jakarta mendapat gelar istimewa sebagai Daerah Khusus Ibukota (DKI). Hal ini menjadikan daerah seluas 661,52 kilometer persegi ini sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status khusus tersendiri, yaitu setingkat juga dengan provinsi. Biasanya ketika kita menyebut Kota Jakarta sama saja artinya dengan Provinsi Jakarta, walau memang wilayah DKI Jakarta sendiri sebenarnya terbagi atas 5 Kota Administratif (Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara) serta 1 Kabupaten Administratif (Kepulauan Seribu). Dengan total penduduk wilayah metropolitannya yakni Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi) yang mencapai 28 juta jiwa, menjadikan Jakarta sebagai Kota Megapolitan Terbesar di Asia Tenggara sekaligus kedua di dunia.

Lantaran menjadi ibukota Indonesia, tak heran kalau denyut nadi kehidupan selalu tertuju dan berpusat di Jakarta, mulai dari bisnis, politik, hiburan, kebudayaan, dan sosial. Banyaknya kantor-kantor BUMN, perusahaan swasta dan perusahaan asing yang berpusat di Jakarta menjadikan kota ini sebagai tujuan utama perekonomian bagi mayoritas penduduk Indonesia yang berasal dari daerah luar. Saat ini Jakarta telah memiliki dua bandara internasional yakni Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma, serta dua pelabuhan niaga besar, yaitu Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia, Jakarta mungkin adalah provinsi dengan tingkat keberagaman etnis terbesar. Setidaknya pada sensus penduduk tahun 2000, ada belasan etnis hidup rukun berdampingan di Jakarta seperti suku Jawa, Betawi, Sunda, Tionghoa, Batak, Minangkabau, Melayu, Bugis, Madura, Banten, Banjar dan Minahasa. Selain multikultural, Jakarta juga mengayomi berbagai macam agama dan kepercayaan secara bebas.

Keberagaman yang begitu tinggi di Jakarta tak bisa dilepaskan dari sejarah. Setidaknya kota ini sudah menjadi saksi bisu akan pergerakan roda bangsa bahkan sejak masa kerajaan kuno, mulai dari penjajahan bangsa Portugis, Belanda, Jepang hingga akhirnya merdeka. Tak heran kalau budaya etnis Jakarta bahkan lebih beragam daripada seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Mengejutkan? Tak hanya itu saja. Berikut ini fakta-fakta sejarah lain Jakarta yang tak banyak orang tahu.

Memahami Jakarta Lewat 9 Fakta Sejarah Ini

1. Lebih Tua Dari Indonesia

Balai Kota Batavia tempo dulu

Balai Kota Batavia tempo dulu (via ugm.ac.id)

Dibandingkan usia Indonesia, Jakarta memang jauh lebih tua. Karena pada 22 Juni kemarin, Jakarta genap berusia 491 tahun. Sekedar informasi, Jakarta di masa lampau adalah salah satu kota pelabuhan milik Kerajaan Sunda bernama Sunda Kelapa yang disebut telah ada pada abad ke-5. Saat bangsa Portugis datang di abad ke-12, Raja Sunda, Surawisesa meminta bantuan Portugis dari kemungkinan serangan Cirebon.

Namun Cirebon yang dibantu Kerajaan Demak berhasil menyerang Sunda Kelapa berkat aksi Fatahillah pada 22 Juni 1527. Fatahillah yang berhasil merebut Sunda Kelapa sekaligus mengusir bangsa Portugis itu akhirnya mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Jika Anda tak tahu, Jayakarta diambil dari aksara Dewanagari yang bermakna Kota Kemenangan.

2. Belasan Kali Ganti Nama

Pelabuhan Sunda Kelapa, Jayakarta di masa lampau

Pelabuhan Sunda Kelapa, Jayakarta di masa lampau (via wikimedia.org)

Apakah menurut Anda kota Jakarta hanya punya setidaknya tiga nama yakni Sunda Kelapa dan Jayakarta? Kalau iya, maka itu keliru. Karena setidaknya sejarah mencatat jika cikal bakal ibukota Indonesia itu sudah 13 kali mengganti nama. Yap, sejak direbut oleh Fatahillah dan resmi berdiri sebagai Jayakarta, Belanda melalui VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen berhasil mengalahkan pasukan Kesultanan Banten.

Coen pun mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia pada awal abad ke-17. Selama penjajahan Belanda, setidaknya dua kali peralihan nama baru terjadi yakni Sta Batavia dan Gemeente Batavia pada 1905 silam. Saat Jepang menjajah Indonesia, Batavia diubah jadi Jakaruta Tokubetsu Shi pada 1942. Ketika Jepang kalah dari sekutu dan Indonesia resmi merdeka, namanya berubah lagi menjadi Pemerintah Nasional Kota Jakarta.

Tak bertahan lama, sewaktu Pemerintahan Sipil Hindia Belanda (NICA) mengambil alih, Jakarta kembali lagi menjadi Stad Gemeente Batavia. Namun tepat pada 24 Maret 1950, diubah menjadi Kota Praja Jakarta hingga pada 1961 terbentuk Pemerintah DKI Jakarta Raya.

3. Lambang Dibuat Gubernur

Henk Gantung, Gubernur DKI Jakarta ke - 7

Henk Gantung, Gubernur DKI Jakarta ke – 7 (via wikipedia.com)

Tokoh-tokoh besar negeri ini pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta seperti Presiden Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), hingga Anies Baswedan. Namun jauh sebelum itu, Jakarta pernah dipimpin oleh seorang seniman bernama Henk Ngantung. Tak banyak yang tahu kalau Gubernur Jakarta ke-7 yang bernama asli Hendrik Hermanus Joel Ngantung itu adalah pembuat lambang Jakarta dengan nama JAYA RAYA.

4. Monas Bukan Maskot Jakarta

Elang Bondol dan Salak Condet sebagai maskot resmi Jakarta

Elang Bondol dan Salak Condet sebagai maskot resmi Jakarta (via id.wikipedia.org)

Bicara soal Jakarta tak akan lepas dari Monumen Nasional (Monas) yang sangat ikonik itu. Karena begitu lekat dengan imej Jakarta, Monas pun dianggap sebagai maskot. Namun Monas bukanlah maskot Jakarta. Sejarah mencatat jika maskot Jakarta adalah Elang Bondol dan salak Condet yang sudah diresmikan pada tahun 1989 lalu. Kedua maskot ini tak lepas dari fakta betapa asrinya Jakarta dahulu sebelum dipenuhi gedung.

Dulu Jakarta adalah daerah dengan penuh pepohonan rimbun serta tanah lapang. Karena sangat sejuk, Elang Bondol sering terbang di atas langit Jakarta. Untuk salak Condet memang merupakan buah asli Jakarta. Demi melestarikan maskot, pihak Transjakarta pun memilihnya sebagai logo perusahaan. Bahkan event Asian Games 2018 menggunakan Elang Bondol bernama Momo sebagai maskot.

5. Punya Banyak Museum

Museum Fatahillah di Kota Tua Jakarta

Museum Fatahillah di Kota Tua Jakarta (via tribunnews.com)

Bukan tidak mungkin kalau Jakarta menjadi kota dengan jumlah museum terbanyak di dunia. Tak main-main, sedikitnya ada 47 museum yang tersebar di seluruh pelosok ibukota dan menjadi saksi sejarah bagaimana bangsa ini tumbuh. Beberapa museum yang sangat penting seperti Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) di Kota Tua yang dulu pernah menjadi Balai Kota Batavia dan sudah berdiri sejak 1707.

6. Stasiun Terbesar di ASEAN

Stasiun Jakarta Kota

Stasiun Jakarta Kota (via spazee.id)

Karena sudah berusia hampir lima abad, masih cukup mudah menemukan bangunan kuno di Jakarta. Salah satunya yang masih difungsikan hingga saat ini adalah Stasiun Jakarta Kota (Beos) yang merupakan cagar budaya. Bangunan ini sudah berdiri sejak 1870 dan sudah direnovasi pada 1929. Beos pernah tercatat sebagai stasiun kereta api terbesar di Asia Tenggara dengan total 580 kereta yang dioperasikan.

7. Sejarah Patung di Jakarta

Patung Pancoran

Patung Pancoran (via brilio.net)

Ketika Indonesia merdeka tahun 1945 silam, kota Jakarta mulai bersolek dengan banyak dibangun patung-patung spektakuler. Beberapa di antaranya adalah Patung Selamat Datang, Patung Pancoran alias Patung Dirgantara dan tentunya Monas. Ada fakta-fakta unik dari beberapa patung itu seperti Patung Pancoran karya Edhi Sunarso.

Konon Patung Soviet ini kabarnya mengarah ke Uni Soviet karena saat itu visi politik Bung Karno lebih condong ke Soviet alih-alih Amerika Serikat. Ada juga Monas yang puncaknya berupa lidah api tapi saat diperhatikan lagi merupakan sosok perempuan yang duduk bersimpuh menatap Istana Negara.

8. Setara Dengan New York

Ibukota Jakarta masa kini

Ibukota Jakarta masa kini (via tribunnews.com)

Jika New York disebut sebagai The Big Apple, maka Jakarta memiliki julukan The Big Durian. Sama-sama berstatus kota megapolitan, julukan The Big Durian itu disematkan ke Jakarta oleh Warga Negara Asing (WNA). Mereka menilai Jakarta layaknya durian karena jika tidak mengenal maka akan benci dengan aromanya atau cenderung menghindar tapi jika sudah kenal justru malah menikmati betapa lezatnya durian.

9. Megaproyek Bersejarah

Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan

Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan (via twitter Adhi Karya)

Sebagai ibukota negara, Jakarta menyimpan berbagai bangunan megaproyek bersejarah. Salah satunya adalah Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang di awal pembangunannya pada tahun 1958 memperoleh dana pinjaman dari Soviet. Bahkan desain arsitektur SUGBK begitu mirip dengan Luzhniki, stadion kebanggaan masyarakat Moskow di Rusia sana.

Dengan berbagai fakta itu, tak heran kalau Jakarta memang menyimpan berbagai lembaran sejarah bangsa Indonesia. Bukan cuma menjelma menjadi kota luar biasa maju dan pesat perkembangannya, Jakarta masih menyimpan cerita masa lalu yang layak untuk dikunjungi kembali.

Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.