Vertical Garden, Solusi Kota Jakarta


Halo Jakartans! Bagi kota metropolitan seperti Jakarta, penerapan konsep hijau dengan vertical garden pada sebuah bangunan patut memperoleh dukungan semua pihak. Apalagi di DKI Jakarta ini masih memerlukan ruang terbuka hijau yang cukup luas.

Dari keseluruhan luas wilayah Jakarta, yakni 665 km persegi, presentase ruang terbuka hijaunya telah terdegradasi tinggal 9 (sembilan) persen. Karenanya, tak mengherankan jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berusaha menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH), seperti yang dilakukan di kawasan Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio. Perkiraan 30 persen penambahan RTH wajib dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Ragam desain dan jenis tanaman yang cocok digunakan untuk vertical garden

Ragam desain dan jenis tanaman yang cocok digunakan untuk vertical garden (via capitalgardens.co.uk)

Harus diakui, nilai investasi atau modal yang dibutuhkan untuk memiliki sebuah vertical garden memang cukup besar. Pasalnya, konsep tersebut masih tergolong baru di Indonesia. Sehingga, belum terjadi titik temu antara penawaran dan permintaan. Harga per meter persegi, berkisar Rp 6 juta. Paling murah sekitar Rp 4,5 juta sampai Rp 5 juta per meter persegi.

Yogi Ismet, perancang vertical garden mengemukakan, hal lain yang membuat mahal ialah konstruksi dan sistem irigasi. Sedangkan jenis tanaman, tidak berimbas besar terhadap harga vertical garden. Tanaman yang dipakai ialah yang biasa ditanam di taman. Tanaman seperti itu bisa diperoleh dengan harga Rp 10.000 per pot.

Perancis, yang sudah terkenal dengan penerapan vertical garden memiliki kelebihan dari segi teknologi. Perancang di negara itu memakai sistem tanaman yang bentuknya natural. Tanaman dapat dibentuk rapi oleh perancang disana. “Meskipun bentuknya natural, tetap ada desainnya,” tambah Yogi.

Gedung Sandjaja di Jalan Gajah Mada dengan penerapan vertical garden

Gedung Sandjaja di Jalan Gajah Mada dengan penerapan vertical garden (via indogreenwall.com)

Sebagai contoh, cobalah melintas di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, pandangan kita akan tertuju pada sebuah gedung berlantai empat di sebelah kiri jalan. Bangunan itu tampak begitu mencolok dan berbeda dengan bangunan lainnya di sepanjang jalan tersebut. Sisi luar gedung itu tertutup warna hijau tanaman. Bahkan cat putih yang melapisi tembok sudah tidak terlihat. Nuansa hijau menjadikan gedung itu tampak segar, indah, sejuk, dan nyaman.

Tidak hanya bagian luar, kehijauan juga memberikan dampak ke bagian dalam gedung. Saat memasuki ruangan, kita dapat merasakan hawa sejuk. Kesejukan tidak sepenuhnya berasal dari pendingin ruangan (Air Conditioner / AC), tapi karena gedung itu menerapkan konsep vertical garden. Yaitu Taman Tegak atau Green Wall. Konsep taman yang pertama kali ini diperkenalkan pakar botani Perancis, Patrick Blanck.

Nilai Estetika

Secara luas, penerapan konsep vertical garden pada pembangunan tidak hanya sebatas pada kepedulian lingkungan. Tetapi juga berkaitan dengan nilai estetika dan seni. Taman tegak, jika dirawat dengan baik, akan memberikan nuansa baru bernilai seni yang dirangkai dalam kombinasi tanaman hidup. Contoh konkretnya, dapat kita rasakan pada taman tegak di Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat. Bahkan beberapa gedung perkantoran di kawasan Kuningan dan Jl Jendral Sudirman.

Taman Gantung di tepi jalan Tugu Tani

Taman Gantung di tepi jalan Tugu Tani (via o2-fresh.blogspot.com)

Perancang taman tegak dari perusahaan ini, Yogi Ismet mengatakan, banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat gedung atau hunian menjadi hijau. Misalnya, ada yang memilih tanaman merambat atau memakai pot-pot dan kotak tanaman seperti banyak yang terlihat di Jakarta. Di antara sekian banyak jenis vertical garden, Yogi lebih suka menerapkan konsep yang acap diadopsi negara-negara Eropa, khususnya Perancis. Pilihan itu didasarkan pada riset secara langsung dengan mendatangi setiap kota-kota besar di “Benua Biru”.

“Hasilnya, kami berkesimpulan bahwa vertical garden yang bagus ialah yang dikembangkan di Perancis,” jelas lulusan Arsitektur Landskap Institut Pertanian Bogor itu.

Tidak Sulit

Gaya berkebun ala vertical garden menurut Yogi, sebenarnya bukanlah murni konsep manusia modern. Kalau dirunut ke belakang, berabad-abad lalu, vertical garden telah dikembangkan masyarakat Babilonia yang membangun Taman Gantung Babilonia (The Hanging Garden of Babylonia). Polanya tidak jauh berbeda dengan yang sering diterapkan saat ini.

Ilustrasi dari Taman Gantung Babilonia

Ilustrasi dari Taman Gantung Babilonia (via learning-history.com)

Untuk Indonesia, pengakuan atas perkembangan vertical garden pada umumnya baru terlihat pada tiga tahun belakangan. Hal itu terlihat dari banyaknya perusahaan yang menerapkan konsep taman tegak pada bangunan atau kantor-kantor mereka. Sejatinya, memiliki vertical garden tidaklah sulit. Selain karena banyak perancang yang menawarkan jasa untuk pembuatannya, konsep taman tegak juga tidak terkendala dengan luas tanah yang dimiliki.

Vertical garden bergantung pada media dinding sebagai tempat dilekatkannya tumbuhan atau tanaman. Asal ada dinding saja. Karena, vertical itu bagian dari dinding. Kalau horizontal, biasanya membutuhkan tanah,” papar Yogi.

Metode perekatan tanaman, tambahnya, dilakukan di atas papan khusus yang ditempeli kain sintetis. Artinya, tanaman tidak langsung menempel ke dinding. Bahkan ada ruang antara papan tempat tanaman dilekatkan dan dinding bangunan. Akar tanaman dilekatkan pada kain sintetis sebagai alat untuk melekat, sehingga dapat menopang batangnya. Kelak, akar tanaman akan menyebar di media sintetis dan menempel di kain yang berbentuk kantong.

Jangka waktu tanaman berkembang hingga membentuk kerindangan tidaklah begitu lama. Masyarakat memang cenderung berpersepsi vertical garden dapat kelihatan hasilnya setelah bertahun-tahun. Padahal, tambah Yogi, tumbuhan dapat rimbun dalam waktu yang relatif singkat, yakni sekitar tiga sampai enam bulan. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.