Yang Tersisa dari Landmark Betawi


Halo Jakartans! Orang Betawi sekarang tinggal sedikit yang memanggil “Nyak” kepada orang tua perempuan. Sebutan “Ncang”, “Ncing” juga hampir jarang terdengar di kampung-kampung Jakarta. Begitupun budaya kulinernya sudah banyak dilupakan oleh generasi Betawi yang lahir tahun 1990-an.

Bagaimana dengan lokasi-lokasi yang dulu dikenal sebagai tempat tinggal orang Betawi, seperti Rawa Belong, Kemayoran, Marunda, Condet? Meski penampakan lokasi kampung Betawi itu sudah jauh berbeda namun legenda yang pernah mewarnai lokasi tersebut masih lestari hingga kini. Berikut beberapa kampung Betawi yang tersisa tersebut.

1. Kampung Rawa Belong, Jakarta Barat

Rawa Belong sekarang lebih dikenal sebagai daerah penjual tanaman hias. Berbeda dengan ratusan tahun silam. Dalam berbagai literatur Rawa Belong terkenal karena di daerah ini terdapat ikon jago silat si Pitung.

Tak heran Rawa Belong berada di Jakarta Barat ini menjadi salah satu daerah atau kampung yang masih melestarikan budaya Betawi, seperti tradisi mencukur rambut, aqiqah, mauludan, ketimpring, rebana qasidahan, silat, dan upacara pernikahan.

Sebagian kecil orang Betawi yang masih bertahan memakai adat Betawi dalam pernikahan yang dimulai dengan kunjungan ke rumah mertua dengan membawa anteran, lamaran, tembakan mercon, lempar-lemparan mercon ke calon menantu, hingga pesta pernikahan.

Begitu juga masih dilakukan antrian yang dibawa saat berkunjung ke rumah calon mertua menjelang bulan puasa, berupa sirup, roti, dan kurma. Sedangkan pada Ramadhan antrian yang dibawa kue pacar cina dan putu mayang. Yang menarik, saat ijab kabul pantun yang diucapkan dengan syair bahasa Arab. Saat itu juga masih dikenal nuneng-nuneng yang disewa untuk membujuk calon menantu yang masih menolak jodohnya (mak comblang).

Pasar tanaman hias di Rawa Belong, Jakarta Barat

Pasar tanaman hias di Rawa Belong, Jakarta Barat (via youtube.com)

Dahulu Rawa Belong dihuni penduduk asli dari kampung Sukabumi Ilir yang merupakan orang Betawi. Pada tahun 1959 penduduknya berjumlah 3000 jiwa. Pendatang mulai masuk sejak tahun 1972 dari Mangga Besar Jakarta Pusat, mereka masih ada hubungan keluarga.

Setelah pembangunan jalan aspal dalam proyek MHT pada tahun 1977 dilakukan di daerah ini, penduduk dari luar pun mulai berdatangan. Seperti orang Padang, Arab, Tionghoa, Jawa, Batak, Aceh, Bima, Sunda, dan lain-lain. Selain si Pitung ada juga legenda Mat Item yang merupakan penduduk Rawa Belong yang memiliki kanuragan yang sangat disegani pada zamannya.

2. Kampung Marunda, Jakarta Utara

Jika mau tahu budaya Betawi juga bisa melihat apa yang ada di Kampung Marunda Jakarta Utara. Kampung Marunda dan Rawa Belong dua lokasi berjauhan namun memiliki sejarah yang sama dengan kisah si Pitungnya.

Orang Betawi dulu mengaitkan Rawa Belong dan Marunda karena kisah si Pitung. Rawa Belong adalah tempat kelahiran si Pitung maka Marunda diyakini merupakan peristirahatan terakhir si Pitung. Jadi, baik Rawa Belong maupun Marunda punya legenda Betawi dan tentunya ada budaya Betawi yang bisa dilihat masyarakat luas hingga saat ini.

Kampung Marunda atau tepatnya Jalan Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara terdapat sebuah rumah yang dipercaya orang ada hubungannya dengan si Pitung, seorang jagoan legendaris Betawi di zaman penjajahan Belanda.

Daerah Marunda disebut juga wilayah kebudayaan Betawi Pesisir. Banyak penduduknya yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut.

Rumah si Pitung di kampung Marunda

Rumah si Pitung di kampung Marunda (via travelklik.com)

Berada di garis pantai membuat masyarakat Betawi Pesisir mudah berinteraksi dengan para pendatang dari berbagai golongan dari beragam budaya termasuk pendatang dari Melayu maupun Arab. Akibat interaksi tersebut berpengaruh pada kehidupan masyarakat Kampung Marunda, di antaranya kesenian merangkai ketupat dari bahan janur berikut juga seni kuliner mengolah beras menjadi ketupat yang disajikan pada perayaan Lebaran.

Betawi Pesisir populer sebagai wilayah penghasil ketupat. Karena kekayaan alamnya yang luar biasa dalam menghasilkan kelapa, daerah ini dulu mendapat julukan sebagai Nusa Kelapa. Kini, kampung Marunda menjadi salah satu tujuan wisata Jakarta khususnya bagi mereka yang ingin melihat bangunan rumah si Pitung dan menikmati suasana laut dari Kampung Marunda.

3. Kampung Setu Babakan, Jakarta Selatan

Jika Rawa Belong dan Marunda berkembang sesuai zaman tanpa banyak campur tangan dari pemerintah. Maka kampung Setu Babakan adalah kampung yang sengaja ditumbuhkan dan dilestarikan sebagai pusat budaya Betawi. Kampung Setu Babakan seluas 165 hektar ini berpenduduk sekitar 3000 kepala keluarga yang merupakan orang Betawi tulen. Di kampung ini, budaya Betawi bisa dengan jelas dirasakan oleh pengunjung. Mulai pembuatan kulinernya seperti bir pletok, kerak telor, dan sebagainya.

Amfiteater di Kampung Setu Babakan

Amfiteater di Kampung Setu Babakan (via kebudayaanbetawiblog.wordpress.com)

Tidak seperti Rawa Belong, Setu Babakan sudah menjadi tujuan wisata budaya Betawi sehingga kawasan ini siap dengan kebutuhan wisata. Misalnya ada pertunjukan kesenian yang bisa disaksikan setiap hari Minggu. Rumah-rumah di kawasan ini juga masih melestarikan bangunan bergaya Betawi dengan ukirannya yang khas.

Intinya, di kampung Setu Babakan masyarakat bisa merasakan atmosfer Betawi yang sangat kental. Selain itu kawasan ini mempunyai dua setu, yaitu Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong. Sambil menikmati kesejukan pinggir setu, pelancong juga bisa menikmati wisata air dan menikmati kuliner khas Betawi yang banyak dijual di pinggir Setu.

4. Kampung Condet, Jakarta Timur

Menyebut Condet sekarang yang terbayang hanya permukiman padat. Tak terbayang jika dulu kawasan Condet sangat spesial. Kekhasan Condet berawal dengan keluarnya SK Gubernur DKI Jakarta Nomor D.IV-1V-115/e/3/1974. Peraturan itu menyebut kawasan ini ditetapkan sebagai wilayah buah-buahan dan budaya Condet. Wilayah cagar ini mencakup tiga kelurahan di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Yakni Kelurahan Batu Ampar, Bale Kambang, dan Kampung Dukuh.

SK yang dikeluarkan oleh Ali Sadikin itu menetapkan pembangunan Condet seluas 18.000 hektar harus dibatasi. Misalnya, dengan menetapkan aturan koefisien dasar bangunan (KDB) hanya 20 persen dari luas tanah. Artinya, lahan yang terbangun maksimal hanya 20 persen.

Dalam perkembangannya, peraturan itu tidak bisa diterapkan lagi di Condet, khususnya Batu Ampar. Sebab, permukiman berkembang pesat dengan pertumbuhan penduduk akibat derasnya arus pendatang. Padahal dulunya Condet dikenal sebagai penghasil duku dan salak. Kawasan Condet hampir tidak berbeda dengan permukiman lain. Padat dan hiruk pikuk. Penduduknya pun lebih banyak pendatang ketimbang orang Betawi asli.

Atraksi silat Betawi di Festival Condet

Atraksi silat Betawi di Festival Condet (jakarta.go.id)

Menurut sejarawan Alwi Shahab, Condet salah satu kawasan yang 90 % penduduknya asli Betawi. Condet kaya akan kebun berpohon rindang. Udaranya bersih, penuh kicauan burung kakak tua jambul putih, bayan, nuri, dan banyak lagi. Monyet melompat dari pohon ke pohon.

Rata-rata orang Condet bertanam buah-buahan, terutama duku dan salak. Pohon duku di Condet banyak yang sudah berumur puluhan tahun. Condet juga penghasil pisang, durian, dan melinjo yang diolah jadi emping yang sangat gurih.

Kekhasan Condet juga terlihat dari bahasa Betawi yang mereka gunakan, adat istiadat yang banyak mengambil nilai-nilai Islam, serta bentuk rumah mereka. Rumah asli Condet berlantai tanah, berdinding kayu.

Perkembangan selanjutnya warga Condet mendesak agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencabut SK Gubernur yang menetapkan Condet sebagai daerah Cagar Budaya Betawi. Sejak itu pertumbuhan permukiman seolah tak terbendung hingga sekarang.

5. Kampung Kemayoran, Jakarta Pusat

Orang Jakarta sekarang tak asing dengan nama Kemayoran. Di daerah ini banyak kisah yang bisa disimak. Di antaranya penamaan Kemayoran yang diambil karena banyak sang mayor yang tinggal di kawasan ini. Sebelum dibangun lapangan terbang daerah ini belum punya nama.

Di Kemayoran dahulu terdapat bandar udara. Landasan Bandara Kemayoran mulai dibangun tahun 1934 oleh pemerintah kolonial Belanda, dan diresmikan tanggal 8 Juli 1940 sebagai lapangan terbang internasional. Bandara dikelola oleh Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappy (KNILM).

Berbagai seni budaya daerah, baik yang khas Betawi maupun serapan dari etnis lain, banyak berkembang di kampung Kemayoran. Di antaranya ialah keroncong. Kemayoran pun menjadi kampungnya musik keroncong yang terkenal pada masa Hindia Belanda.

Orkes Keroncong Kemayoran untuk pertama kalinya tampil di muka umum tahun 1922. Mereka selalu mendapat panggilan dari orang-orang Belanda atau China yang kaya untuk memeriahkan pesta perkawinan atau pesta ulang tahun. Selain itu, mereka tidak ketinggalan pula mengikuti perlombaan orkes keroncong yang diadakan tiap tahun di pasar malam Gambir. Saat tampil para pemain keroncong memakai pakaian seragam khas Betawi, yaitu jas tutup dan kain batik.

Tidak hanya keroncong yang digemari masyarakat saat itu, tetapi juga Rebana Gembrung, Wayang Kulit, Tanjidor, Cokek (Cokek Ken Bun), orkes Gambus, dan Gambang. Kesenian ini terutama berkembang pesat di awal abad ke-20, dan mulai meredup kehilangan penggemarnya sejak tahun 1970-an.

Musik Gambang yang berkembang di Kemayoran mendapat pengaruh dari China, tetapi irama dan lagunya berdialek Jakarta. Musik ini sering disebut Gambang Kemayoran dan tidak disebut dengan Gambang Kromong karena alat musik kromong tidak digunakan. Lagu-lagu yang digemari saat itu diantaranya Onde-onde, Si Jongkong Kopyor, dan Kapal Karem.

Bangunan sisa peninggalan Bandara Kemayoran

Bangunan sisa peninggalan Bandara Kemayoran (via kompas.com)

Pada 31 Maret 1985 ditetapkan sebagai tanggal berhenti beroperasinya Bandara Kemayoran. Kemayoran ditutup karena sudah dianggap tidak layak lagi sebagai bandar udara mengingat letaknya agak di tengah kota dan demi pembangunan wilayah Jakarta Utara.

Setelah ditutup, suasana masih tetap seperti sedia kala walau tanpa operasi dan aktivitas penerbangan. Area Bandara Kemayoran seluas 454 hektar diambilalih oleh pemerintah dari Perum Angkasa Pura I, sebagai aset negara berdasarkan Perpu Nomor 31 Tahun 1985.

Eks bandara Kemayoran di sekarang ini menjadi tempat perhelatan akbar seperti Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair yang dibuka tiap tahun pada ulang tahun Jakarta.

Hingga akhir 80-an, banyak dari seni budaya tradisional Betawi khas kemayoran masih dapat dijumpai, namun kini budaya tradisional khas itu perlahan menghilang dari masyarakat tergerus perkembangan zaman yang semakin canggih dan modern. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.